AYA ARIFIN


KARYA AYA ARIFIN

1.      BINTANG JATUH
pada pekat malam,
pada suatu kebetulan,
kita menatap langit kelam,
waktu itu hanya berhias beberapa bintang,
yaa...langit tak terlalu terang

kita berpandangan,
namun tak saling berhadapan,
tak bicara,
hanya hati bertegur sapa,
namum entah memperbincangkan apa

tiba-tiba di langit sana,
pada satu bintang yang paling terang,
cahaya berkelebat,
indah melesat ke arah buana,
entah jatuh di mana

itukah bintang jatuh,sayang?
kuterpana tak percaya,
namum dalam hati kubergumam,
inikah pertanda cinta kan abadi selamanya?
hanya Tuhan yang tau jawabnya 


@serpihhati


di tepian senja aku terpaku,
mataku menerawang jauh,
jingga itu sungguh meneduhkan hatiku,
...aku larut

di sampingku dedaun basah,
bekas dijatuhi hujan,
di depanku kepodang bersahutan,
di dahan yang hampir patah

namun senja...tahukah kau?
hatiku sebenarnya sayu,
air mata tersendat di leherku,
nyeri menusuk dadaku

cinta...dulu pernah di sini,
berdiam di liang hati,
senja tlah membawamu pergi,
yang tersisa hanya perih


@serpihhati

3.      CINTA TERSEMAT DUSTA


adalah aku...
terhenyak dalam kecewa yang terlalu,
dedaun gugur satu-satu,
di pangkuan jiwa yang beku

kau...membaringkan janji di telingaku,
indahnya membius hatiku,
langit terbuai didekap kata-katamu,
sesempurna bulan menggenapi malamku 

ternyata...pada cinta kau sematkan dusta,
seketika angin bisu tak bersuara,
hujan menjelma air mata,
hatiku kau abaikan

tinggallah senyap di hati,
hari-hariku merenda kenangan tanpa arti,
kau dan dia kini menari-menari,
di atas cinta yang terkhianati


@serpihhati



4.      KERINDUANKU

pada malam kuberkisah,
tentang kerinduan yang mendekam di dada,
rasanya entah bagaimana,
tak seperti biasanya

malam pun lengang,
rupanya ia menghayati rinduku,
rembulan tampak muram,
mungkin ikut mengeja kepiluanku

aku...merindukanmu dalam diam,
sesederhana malam yang merindukan gemintang,
pada hati yang kelabu kunyatakan kau slalu di hatiku,
walau kau tak pernah tahu

kerinduanku mulai kering,
waktu dan jarak kian merintangi,
kau semakin tak dapat kugapai,
walau hanya dalam mimpi




@serpihhati


5.      DI BAWAH NAUNGAN SENJA

Di bawah senja yang jingga
Aku berdiri kaku tak bicara
Hanya ada airmata
Pengganti beribu bahasa

Di bawah senja yang merekah
Aku berdiam penuh lara
Ada teriak namun tak
bersuara
Terhimpit rasa dalam dada

Di bawah senja yang memerah
Aku setia merawat luka
Sampai engkau datang
menyeka
Bulir-bulir air di pelupuk mata

Di bawah naungan senja
Ada harap yang menggugah
Ada rindu yang membuncah
Untukmu yang ku cinta
@serpihhati



6.      PADA GENGGAMAN MALAM,


pada genggaman malam,
kucoba menghitung bintang,
pada hati yang kesunyian,
kucari dekap rembulan

dingin~melingkupi ragaku,
di mana kehangatan dulu,
yang pernah kau bagi denganku?
aku kehilangan itu

pada genggaman malam,
kurangkum pendaran rindu,
yang bertebaran di sekelilingku,
kusimpan di saku hatiku

wahai malam...
bawalah hati yang tlah tertawan,
kepada kekasih tersayang,
walau hanya sekedar bayang-bayang

@serpihhati




7.      AKU DI JANTUNGMU

di dada kirimu aku bermukim,
berteduh dari segala musim,
layaknya cericap kerasan mendiami rimbun reranting,
rasanya enggan berpaling

melupakanmu aku tak mudah,
tak seperti embun yang perlahan meninggalkan kesuma~laras,
hatiku tlah tertambat pada satu cinta,
walau kadang terjatuh~luka

wahai Tuan...ijinkan kurebahkan seluruh cinta,
di jantungmu yang lindap,
biar abadi didekap nafas,
biar damai segenap jiwa



@serpihhati



8.      AKU DAN KAU

dengan apa kuhapus dukaku,
jika jemariku kelu,
dengan apa kuterbangkan perihku,
jika sayapku rapuh

aku~hati yang menyerpih,
menjadi butir yang melesap ditiup angin,
semburat ke langit paling tinggi,
bersisa debu yang jatuh di kubangan sepi

kau~sesekali singgahlah di hatiku,
bawakan aku cinta seperti dulu,
yang pernah kau benamkan di hidupku,
bahagia~itu saja dulu yang kutahu

aku dan kau...
kini adalah sepenggal kisah lusuh,
yang hanya terkisah dalam sehelai puisi,
sejak cinta tak bersama-sama lagi 


@serpihhati


9.      AKULAH HENING

yang menjamahmu perlahan,
yang tak pernah mau menyudahi ketukan,
di hatimu yang nirwana

sementara dedaun memejamkan matanya,
kukecup bibirmu diam-diam,
serupa padma yang sedang mekar,
yaa...malam inilah saatnya

pendar bulan berkeliaran di matamu,
merapalkan selaksa kenangan yang jatuh di pipimu,
kupunguti satu-satu,
kusimpan di dekapan angin malam

kini~akulah hening di sudut hati,
menunggui cinta yang tak pernah mati,
walau ruh terpisah dari jasmani,
kasih yang kalis selamanya abadi


@serpihhati

Komentar

Postingan Populer