EMILIANA VENNY WIDIYASWATI
KARYA
EMILIANA VENNY WIDIYASWATI
1.
TETAPLAH BERSAMAKU
Kekasihku…
Tetaplah disini bersamaku
Mewarnai rindu…
Membingkai sketsa luka dengan pelukanmu
Kekasihku tetaplah bersamaku
Walau hujan membasahi baju
Walau rindu tak lagi biru
Kekasihku tetaplah bersamaku
Menghangatkan malam dengan lengan-lenganmu
Membakar perapian dengan bibirmu
Disisiku …
Kan kulukis matamu, sewarna bianglala
Berpendar indah bersama
Hingga izrail memutihkan mata
@VWidiyaswati
2. PAGIMU LELAKI
Didadamu lelaki…
Pagi adalah api…
Rinduku, ranting kering
Terbakar barkali-kali, tak pernah mati
Dimatamu lelaki…
Pagi adalah pelangi
Akulah bidadari, hendak turun mandi
Dipunggungmu lelaki…
Pagi adalah cemeti
Melecut rindu, menggapai mimpi yang tak terbeli
Dibibirmu lelaki…
Pagi adalah embun
Keningku dedaun…
Tempat semua keluh dan rindu berhimpun
@VWidiyaswati
3. CINTA TAK MEMILIH
Cinta adalah genggamanmu, yang menenangkan
aku
Tanpa kata, tatapan matamu melakukannya
Hingga cinta tak perlu alasan
Saat berulang merongga didada yang sama
Kau tak perlu bersayap bagai peri
Cinta selalu punya cara sendiri
Menerbangkan dan menjatuhkanmu berkali-kali
Tak peduli dosa-dosa yang meluruh
Sebanyak kerinduan yang kau rengkuh
Cinta tak pernah memilih, dihati mana ia
berteduh
@VWidiyaswati
4. BICARA RINDU
Bila rindu-rindu ini duri
Aku ingin menikmatinya sendiri
Nyeri setelah menjumlah mimpi
Bilangan yang tak pernah kau genapi
Bila selaksa rindu ini puisi
Jemari takkan bisa berhenti
Memahat namamu ditebing-tebing mimpi
Bila rindu ini pelangi
Aku takkan lelah melewati hujan
Menjemput sejuta larik warna setelahnya
Bila rindu ini airmata
Ia akan menggenang menjadi telaga
Dan kubiarkan tubuhku tenggelam didalamnya
@VWidiyaswati
5. KENANGAN BINTANG
Kenanganku adalah bintang
Walau tak benderang, ia menenangkan
Kenanganku adalah bintang
Yang hanya dapat kupandang, memegang aku
terpanggang
Jika kenanganku adalah bintang
Aku tak mau hanya malam ia datang
Siang pun seharusnya ia tak memejam
Karena kenanganku adalah bintang
Dalam badai gigil malam
Tak kubiarkan ia padam
6. HARTA BERHARGA
Dalam tatapan beku tereja lelahmu
Tak perlu kau seru, aku sudah tau
Meremukkan jemari mengeja mimpi
Mematahkan punggung demi seuntai kalung
Tapi dimana pelukanmu
Saat tubuhku menggigil sendiri
Dimana kecupanmu
Yang dulu setia menyeka air mataku
Rinduku melepuh demi fana yang kau cari
Tubuhku membeku di bawah terik mentari
Bukan itu….
Aku ingin kau mengerti sebentuk hati
Aku ingin kau tau…
Akulah harta berharga itu…
Yang selama ini kau miliki
Dan tak pernah kau sadari
@VWidiyaswati
7. KEKASIH HUJAN
Kepergianmu tuan …
Mengekalkan sebuah musim diingatan;hujan
Jika tetes hujan adalah semua kerinduan
Bagaimana kuharus menampungnya
Agar tubuhku tidak tenggelam
Hujan kali ini tuan, kembali mengutuk aku dengan
mantra kepedihan
Hingga air mata adalah sesaji yang harus
kuhidangkan setiap malam
Dengan aksara apa kueja air mata ini tuan
Agar genap rindu yang aku jumlahkan setiap
pagi dan petang
Karena untuk setiap tetes hujan dimusim ini
Akan kuhitung sebagai hutang pelukan saat kemarau nanti
Andai rindu dapat aku dengungkan
Mungkin hanya hujan yang mau mengerti
Dalam gigilnya, penantianku abadi
@VWidiyaswati
8. LUKISAN SENJA
Aku selalu menyukai senja
Karena jingga adalah warna yang kau lukis dipipiku saat jatuh cinta
Senja adalah cinta kita
Indah yang mengawali kegelapan semata
Kau pergi, malam pun menyapa
Hngga di pelukanmu, semua rindu terlihat sempurna
Aku selalu menanti senja
Karena pada saat yang sama, kau pun sedang menikmatinya
Menjatuhkan kenangan di pelupuk mata
Ah, senja kau terlalu sempurna
Bahkan untuk sesuatu yang kau sebut luka
Tak pernah berkurang keindahannya
9. TELAGA KASIH
Disebuah telaga, sepasang belibis mengarak tangis
Berharap menemukan bahagia di ujung muara
Saling menggenggam, menguatkan
Berenang mengarungi telaga, bersama
Di tepi telaga, seekor pipit mencericit
Menceritakan sebuah luka
Tentang cinta yang pergi
Lupa untuk kembali
Di telaga bening, semua luka dilarungkan
Semua rindu dan air mata disatukan
Kesetiaan telaga, bukti kasih yang tak pernah berdusta
@VWidiyaswati
10. DISISIMU
Aku ingin di situ, satu saf dibelakangmu
Penguat sujudmu, mengamini semua doamu
Aku ingin disitu
Disetiap tengadahmu
Disela tetes air matamu, permohonan kebahagiaanmu
Aku ingin disitu
Menyambut aroma peluh setiap kedatanganmu
Menjadi tangan penadah keringatmu
Walau menetes tak tentu
Aku ingin disitu
Meramaikan makan malam
Kehangatan yang dirindui anak-anakmu, kelak
Aku ingin tetap disitu
Walau kelak pelukanmu, sebeku gigil pagi tak
disapa mentari
Disisimu
Aku ingin bertahan dalam badai dan hujan
Memungut pecahan surga yang kau janjikan
@VWidiyaswati
Komentar
Posting Komentar