SEKAR WULANDARI


KARYA SEKAR WULANDARI



Puisi 1

Aku, Kau, Dan Dia

"izinkan aku memadu rindu didadamu sayang, agar aku tak lagi kesepian, agar seluruh rinduku bertuan.."


AKU

sekiranya rasa paling nyeri..
selain saat bakteri salmonella typhosa menyerang dan melemahkan sistem imun tubuhku,
ternyata ada lagi satu hal..
aku menyebutnya
rindu~

inilah aku
telah menyilangkan namamu didadaku
aku yang sendiri
berteman air mata 
serta sepi

inilah aku
yang mencintaimu diam-diam
bermain dengan imajinasiku sendiri
kemudian membayangkanmu
dalam dekapanku
saat malam, semakin kelam dan mencekam

DIA

pernah ku lihat hujan
bias-biasnya membentuk seberkas pelangi indah dimatanya
tatapn yang teduh
senyum manja di ujung senja

kelopak matanya berbunga
dan disana ku temukan aku
sebagai sesuatu yang berharga
dan
entah semenjak kapan, dia ada di dadaku
kemudian namanya perlahan tapi pasti
terukir dengan pelan dan samar..

dan

KAU

kau yang aku cinta
yang hingga air mataku mengabu
kau tak akan pernah tahu

sampai ketika
Tuhan menuliskan suatu cerita
yang seakan langit runtuh begitu saja
ketika ku tau cintamu bukanlah untukku
dan seakan perih lebih tajam menguliti seluruh isi hatiku

dan kini

aku berada
dalam labirin perasaanku sendiri
diantara kau dan dia

sungguh
dalam ingatan ku hanya engkau yang bertahta
tapi Tuhan mengajarkanku cara yang lain untuk bahagia
"lebih baik kau dicintai daripada mencintai dan harus merasakan sakit"

dan aku telah memilihnya
menjadi sebagian dari hidupku
walau separuh dari hatiku
masih tetap menua untukmu

dan kau
sekali saja, temuilah aku
izinkan aku memadu rindu didadamu
sebelum perpisahan itu tiba
sebelum Tuhan menggariskan dia 
sebagai belahan jiwa

@MemaduRindu
Puisi 2



Air Mata


beralih dari keramaian
dan terdampar.
di tempat yang hanya ada aku
sendiri
dalam gelap, dalam dingin
dalam lelap, yang tak ku ingin

air mata bukan hanya dari mata
dari hidung, kemudian telinga
dari tangan, kemudian kaki
dan dari;
hatiku

deras
perlahan kesedihan mulai menetas
sedang sepi
begitu tersenyum menertawakanku sendiri

adakah yang lebih perih
selain perasaan yang begitu terkoyak
sedang air mata
bukti segala kesakitanku
semenjak
kau tinggalkan aku

air mata
bukti nyata atas segala luka
pada kenyataan kenyaatan cinta
pada sebuah janji
yang kau ingkari

@MemaduRindu






Puisi 3

Ada rinduku


memandangku jauh ke langit malam
menyesap hangat dalam bulan yang tak sempurna
menetes air mataku dalam kelam,
semenjak lama tak tegur sapa

jatuh begitu deras
kesedihan sudah mulai menetas
keluar dari cangkang retina
mengalir pedih
dalam isak penuh lirih

aku amat sangat lelah
kesalahanku memisahkan jarak yg seharusnya indah.
sedang engkau
disana termangu
nyanyikan lagu sendu tanpa sengau

Tuhan
ada rindu di sela jemariku yang kosong
ada rindu dibibir yang memucat
ada rindu dihati yang memati
ada rindu didarah yang membeku
ada rindu di air mata ini

ada rinduku pada senyumannya
ada rinduku pada dekapannya
ada rinduku pada kecupannya
dan ada rinduku pada setiap bayangannya
@MemaduRindu


Puisi 4


MENGENANGMU ~


Dalam sepi ini aku mengenangmu
Masih terekam dalam ingatanku
Wajahmu,
Menari-nari dalam perih hati
Membuatku tertawa dalam fana

Hah….
Helaan nafas panjang tak lagi ku elakkan
Semua telah berakhir,
Cerita kita, dan kenangan kita

Untaian doa-doa pengembalian masih selalu ku sebut
Seandainya kau tahu,
Separuh hidupku telah kuhabiskan untuk belajar,
melupakanmu

Janji serta harapan
Telah berakhir dengan kepedihan

Aku berlari,
Sejauh mungkin ku kejar bayangmu
Dan kau tak pernah kembali

Lihatlah aku merintih
Batinku menjerit penuh lirih
Memanggil namamu
Tak adakah kau pun sama?
@MemaduRindu









Puisi 5


Sekali Lagi

Dulu,
Lama waktu yang kita punya untuk bersama
Mengukir setiap kenangan
Pada piring-piring hitam ingatan
Yang kapan saja dapat kuputar ulang
Yang sampai kapan saja tak akan pernah hilang

Kau tak akan mengerti
Bersamamu ku lewati seluruh hidupku
Telah ku tetapkan kau sebagai belahan jiwa
Tapi takdir Tuhan tak menyatukan kita

Aku yang sendiri
Berteman penuh sepi
Hanya ada isak tangis yang tertahan
Merindukanmu sungguh aku benci akan kesepian

Seandainya saja tangan-tangan Tuhan menyatukan
Kau kembali dan tak akan pernah terlepaskan

Seandainya dapat kuputar jarum waktu
Aku ingin kembali ke masa itu
Masa dimana aku masih menjadi bagian dalam hidupmu
Masa dimana aku masih menjadi separuh jiwamu

Tapi waktu terus berjalan
Dan sekali lagi aku kehilangan.

@MemaduRindu









Puisi 6


KARENA KITA SATU



Ketika sebuah tunas tumbuh menjadi tubuh yang mengakar
Setiap nafas yang terhembus adalah harapan
Pucuk-pucuk rindu ku semai setiap hari
Kan kusimpan sampai tiba saatnya pertemuan

Hari kian berganti
Tunas itu semakin tumbuh di dadaku,
juga di dadamu.

Tangan kita terikat
Lidah kita menyatu

Diluar itu pasir
Diluar itu debu
Mereka tak pernah tahu
Seberapa besar cinta yang telah kita tanam
Maka hiraukan saja semua apa kata mereka
Seperti angina yang meniup
Terbang, kemudian berlalu begitu saja

Tetaplah menari, dan terus menari
Hanya kita yang tahu bahagia itu apa
Sebab hanya kita yang tahu
Jiwa ini tangguh

Maka kita duduk saja
Lalu umumkan pada semesta
Bahwa kita adalah Satu
Hidup dan mati tanpa mengenal pilu
@MemaduRindu
Puisi 7

Kaulah Kehidupanku


pada cermin di hadapanku,
aku berkaca tanpa air mata
wajah siapa ini?
penuh luka, guratan derita dan hanya bisa tersenyum getir
tersayat perih, mengalir pedih sampai ke hati
berair mata darah, dengan tatapan kosong
dan semua telah mati.

ku dengar seru menderu di dalam hatiku
apa hanya angin lalu tiupkan masa lalu?
aku berjalan,
aku menepi lalu berdiri
tak lihatkah kau langkah terapung di dalam mimpi?

kepergianmu serupa angin,
hanya menyisakan sebuah ingatan dan perasaan
kau datang sebagai apa?
sebagai nasib ataukah takdir?
sampai semua menghilang dan tak kutemukan jawabannya

lantas semua luka ini datang
luka yang sengaja atau tidak kau torehkan aku pun tak tahu.
aku yang berkelana sepi,
mematung saksikan cinta yang menjadi abu
harapan menjadi debu
dan air mata berbaur membeku

aku merindukanmu dari dada sampai tulang kering
aku menyayangimu sampai nafas menjadi hening
tak peduli luka wajahku, hatiku, jiwaku
tak peduli putus uratku, nadiku, jantungku
sebab hanya kau kehidupanku..


@MemaduRindu




Puisi 8


Hujan



hujan
merintik begitu tajam dan deras
dan aku, sekali lagi harus merasakan pedih
atas semua ingatan dan luka yang pelan pelan menetas

senjaku menua,
berjalan sendiri menapaki sisa-sisa hidupku yang;
tak lagi berarti,
semenjak kepergianmu.

tak ingatkah kau padaku?
kita pernah melewati jalan ini, bersama derasnya hujan
dibawah payung warna warni jingga
kemudian pelangi terbit dari sinar matamu
dan aku hanya bisa terdiam
memeluk erat tubuhmu yang harum
dan larut dalam pelukan di dadamu yang bidang.

tak ingatkah kau padaku?
meminta penuh lutut harapku atas pengembalianmu
hanya terdiam, kau pergi tanpa sepatah katapun alasan
dan aku hanya bisa berteriak penuh lirih
dalam barisan tangis penuh perih.

hujan
rinduku meringkuk kedinginan
di sini, tepat di jalan yang pernah kita tapaki dulu
aku ingin menemukanmu
meski hanya sekedar berlalu, tanpa menyapaku.

@MemaduRindu







Puisi 9


Kesunyian


sekali lagi aku hanya sanggup terdiam
sedang dalam ingatanku
tentangmu semakin mengakar
begitu dalam
begitu kuat

entah,
gemintang seolah bisu
jemariku mengukir puisi lewat kanvas langit
dan perasaanku semakin menjerit
lagi, dan lagi
kau pergi.

hanya sekedar berlalu atau berhenti
kenyataanya perih itu menghampiri
kemudian kesunyian memecah lamunanku
tak pernah ada,
dan tak akan pernah ada

aku hanya bisa terdiam
perasaan yang ku letakkan didadamu hanya sekedar singgah
lalu padam
apakah tak ada rindu sedikit mengalir lewat air mata?
sedu sedan tetap terasa
setelah kau abaikan semua seluruh cinta.

kesunyian
separuh hatiku telah kuletakkan didalam hatimu, namun terlewatkan
dan aku masih mencoba mengusir seluruh sepiku
ramaikan hati dengan kenangan
lekukan sebuah senyuman dengan ingatan kebahagiaan
sebelum akhirnya aku mengerti, bahwa bukan diriku yang engkau inginkan
adalah sebuah kenyataan yang tak mungkin dapat aku elakkan

@MemaduRindu



Puisi 10

Piringan Hitam


denting denting piano dari piringan hitam
mengalunkan melodi rindu, sekaligus haru
dan aku,
masih tetap disini
bersembunyi di balik jendela kamarku,
menunggu kau datang
tuk sematkan cincin di jari manisku ini, sayang.

mungkin ini sia-sia,
penantianku selalu seperti senja
hanya sesaat sampai malam meninggi dan menua
menghabiskan separuh waktuku dalam lamunan
mempermainkan seluruh rinduku

kau tahu,
aku sungguh mencintaimu
sedang piringan hitam yang ku pasang
semakin tenggelamkan aku dalam luruhan air mata yang tak akan pernah hilang
dalam kesedihan yang tak akan pernah usang
meski ribuan putaran waktu, mencoba menghapusnya perlahan

piringan hitam
satu-satunya kenangan sebelum kau pergi
sebagai teman hidupku, jika suatu hari nanti kau tak kembali
yang mengalunkan nada-nada sumbang pada hati yang sepi

dan kemudian waktu memutar detiknya
kembali ke masa lalu, masa dimana kita adalah
- satu -
dan malam ini, aku kembali menjadi aku
seseorang yang kau sebut itu adalah separuh nafasmu
sampai aku tenggelam pada sebuah ingatan,
yang kini telah ku sebut sebagai kenangan.

setiamu, adalah sebuah janji yang tak akan pernah kau ingkari
tapi mengapa tangan-tangan Tuhan,
menggariskan takdir yang lain?
mengapa tangan-tangan Tuhan,
memanggilmu sebelum aku mengenakan baju pengantin?

dan kini,
tangis air mata pecah menjadi satu
di dadaku kau hidup,
bersama kenangan kita, kau tak akan pernah redup

@MemaduRindu

Komentar

Postingan Populer