PERIHAL JANJI
PERIHAL JANJI
Perihal janji yang telah kita sama-sama sepakati dahulu
Perihal janji yang telah kita ikrarkan dengan penuh cinta dahulu
Perihal kita yang telah berjanji akan tetep bersama dalam suka dan duka dahulu
Perihal doa yang telah kita ucap bersama dan mohonkan kepada-Nya atas dasar cinta dahulu
Namun semua janji tinggallah janji, sebab Tuhan belum berkenan menyatukan kita
Apatah aku tetap bisa menagihnya kepadamu, sebagaimana aku menagih atas piutang yang ada padamu?
Atau kah semua janji itu hanya akan menjadi cerita yang tak pernah menjadi nyata?
Bukantah janji adalah utang, dan utang itu harus dibayar, lalu bagaimana caraku menagih janji kita?
Haruskah aku pun mengikhlaskannya seperti halnya utang yang diikhlaskan karena yang berutang tak mampu membayarnya?
Atau aku harus menagihnya hingga kita berada di padang akhirat yang sama-sama kita yakini adanya?
Lantas salahkah, jika aku meminta pada Tuhanku yang maha menepati janji, meminta pada-Nya untuk mengabulkan janji-janji dan doa-doa kita dahulu?
Meminta kepada-Nya yang memiliki hatimu agar hatimu dan hatiku bisa menjadi satu.
Aku tak pernah menyesal tentang kita yang pernah bertemu dan menjalin cerita
Tapi aku menyesal mengapa kita tak benar-benar dipersatukan Tuhan.
Mungkin selama raga ini masih bernyawa, rasa ini tak kan pernah berakhir.
Sengayam, 25 Februari 2019
Komentar
Posting Komentar